BAGIMEDIA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan pada Minggu (29/07/2018) bahwa ia akan menemui pemimpin negara Iran, Hassan Rouhani tanpa prasyarat. Hanya saja ini pasti akan dibantah oleh Gedung Putih dan diplomat atasannya nanti.

"Saya pasti akan bertemu, jika mereka (Iran) menginginkan. Saya tidak tau tentang siap atau tidaknya mereka. Saat ini mereka mengalami kesulitan" kata Trump saat konferensi pers dengan Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte.

"Saya akan bertemu dengan siapapun. Tidak ada yang salah dengan pertemuan" tambahnya.

"Saya percaya bahwa pada akhirnya mereka juga berharap untuk bertemu. Saya siap untuk bertemu kapanpun mereka minta" katanya, sambil menambahkan bahwa ia akan melakukannya tanpa prasyarat.

"Baik untuk negara (Amerika Serikat), baik untuk mereka, baik untuk kami, dan baik untuk dunia. Tanpa prasyarat. Jika mereka ingin bertemu, saya akan menemuinya" Trump mengatakan.

Sanksi Setelah Penarikan

Komentar muncul ketika Washington bersiap untuk memaksa memberi penjelasan sebagai penumpasan sanksi pada Teheran, menyusul keputusan Trump awal tahun 2018 lalu untuk menarik Amerika Serikat secara sepihak dari kesepakatan nuklir tahun 2015 antara Iran dan enam kekuatan besar. Kesepakatan tersebut dibuat untuk menanggapi kekhawatiran akan rencana Iran dalam mengembangkan bom atom.

Sanksi pertama kembali diberlakukan pada Agustus, diikuti oleh orang-orang yang berada di sektor energi Iran pada November.

Keputusan Trump telah menciptakan pengembangan kesenjangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa yang saat ini sedang mencoba mengamankan kesepakatan nuklir yang dikatakan oleh PBB dan ahli non-proliferasi.

Gedung Putih, Mundurnya Pompeo

Beberapa jam setelah komentar Trump, Mike Pompeo selaku Sekretaris Negara tampak bertentangan dengan pernyataan bosnya tentang pertemuan dengan Presiden Iran, Hassan Rouhani tanpa prasyarat.

"Jika Iran menunjukkan komitmen untuk membuat perusahan mendasar dalam upaya mereka dalam memperlakukan rakyatnya, mengurangi fitnah, setuju bahwa ada baiknya mereka bergabung dengan perjanjian nuklir yang diadakan untuk mencegah proliferasi, maka Presiden mengatakan bahwa ia telah siap untuk duduk dan berbincang dengannya" kata Pompeo kepada CNBC.

Pada bulan Mei lalu, Pompeo meluncurkan strategi Iran - Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa Washington tidak akan kembali untuk mencoba negosiasi kesepakatan nuklir. Sebaliknya, setiap kesepakatan baru mengharuskan Iran untuk memenuhi 12 tuntutan, termasuk menghentikan program rudal dan mengakhiri peran regionalnya dalam konflik Timur Tengah, termasuk di Suriah dan Yaman.

Pengamat mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang mencoba untuk menghasut pergolakan internal di Iran dengan tujuan perubahan rezim.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, Garrett Marquis mengatakan: Trump terbuka untuk berbincang dan mencabut sanksi tapi "jika ada perubahan nyata, menunjukkan dan melanjutkan perubahan dalam kebijakan Teheran".

Sampai saat itu tiba, sengatan sanksi hanya akan tumbuh menjadi lebih menyakitkan jika rezim tidah mengubah haluan" tambahnya.

Respon Iran

Dalam menanggapi upaya Trump, Iran mengatakan Amerika harus kembali ke kesepakatan nuklir yang keluar pada Mei jika ingin bicara.

"Menghormati hak bangsa Iran, mengurangi permusuhan dan kembali ke kesepakatan nuklir adalah langkah yang dapat diambil untuk membuka jalan pembicaraan yang bergelombang antara Iran dan Amerika Serikat" Hamit Aboutalebi, penasihat Rouhani melalui Twitter pada Selasa (31/07/2018) dini hari.

Perang Kata Antara Amerika Serikat dan Iran

Pesan-pesan yang bertentangan dari administrasi Trump datang ketika Iran dan Amerika Serikat mengobarkan perang kata dalam beberapa pekan terakhir disaat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Minggu lalu, Rouhani memperingatkan Amerika Serikat bahwa Trump seharusnya tidak bermain dengan ekor singa.

"Amerika harus tau bahwa damai dengan Iran adalah ibu dari semua perdamaian, dan perang dengan Iran adalah ibu dari semua peperangan".

Trump membalasnya melalui Twitter.

"Untuk Presiden Iran, Rouhani: Jangan pernah mengancam Amerika Serikat lagi atau anda akan menerima konsekuensinya seperti yang pernah dialami dalam sejarah panjang sebelumnya. Kami tidak lagi negara yang akan berdiri untuk kata-kata gila anda atas kekerasan dan kematian. Berhati-hatilah!"


Mohammad Javad Zarif selaku Menteri Luar Negeri Iran menanggapinya melalui akun Twitternya dengan pesan yang diawali "tidak berkesan mewarnai kami".


Kepala kekuatan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran juga memberikan peringatan keras.

"Kami berada di dekat anda, dimana anda tidak dapat membayangkan" kata Mayor Jenderal Qassem Soleimani. "Anda menyadari kekuatan kami di regional dan kemampuan untuk (peluncuran) asimetris perang?"

Seni Kesepakatan?

Trump menggambarkan dirinya sebagai orang yang jago membuat kesepakatan, yang dapat mengadakan pertemuan satu persatu dengan saingan dan musuh Amerika Serikat. Menyorot pembicaraan hangat baru-baru ini dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin dan orang terkuat Korea Utara, Kim Jong Un.